Berita

Menyongsong Jakarta Kota Global Usai Tak Lagi Jadi Ibu Kota Negara

5
×

Menyongsong Jakarta Kota Global Usai Tak Lagi Jadi Ibu Kota Negara

Share this article

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

KILASVIRAL.COM, GAMBIR – Jakarta tak lagi menyandang status sebagai Daerah Khusus Ibukota, setelah Ibu kota Negara resmi pindah ke Nusantara di Pulau Kalimantan pada 2024 mendatang.

Sesudah bukan ibu kota negara, Jakarta akan menjadi kota global (global city). 

Dalam diskusi virtual bertajuk ‘Menuju Jakarta Global City’, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menjelaskan, Jakarta kini tengah dipersiapkan menjadi pusat ekonomi dan bisnis.

“Jakarta bisa menjadi kota bisnis, keuangan, kota perdagangan, dan pusat jasa,” ucapnya dalam diskusi tersebut.

Heru menyatakan, selama ini Jakarta tidak terlepas dari perannya sebagai barometer ekonomi nasional. 

Kondisi tersebut didukung oleh perkembangan sarana infrastruktur dan transportasi yang memadai di Jakarta.

“Kota-kota di dunia itu dinilai dari warganya nyaman atau tidak tinggal di sebuah kota, infrastrukturnya, ruang terbuka hijau berkembang tidak, pertumbuhan investasi, pengaruh ekonomi terhadap Indonesia bagaimana. Ini sudah ada semua di Jakarta, tinggal kita mempertahankan itu,” ujarnya.

Atas dasar itu, Heru memastikan, Jakarta akan tetap menjadi daerah khusus selepas tak lagi menyandang status ibu kota negara.

“Kemungkinan DKI Jakarta nanti namanya bisa menjadi Daerah Khusus Jakarta atau Daerah Khusus Ekonomi Jakarta,” tuturnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta Atika Nur Rahmania menerangkan, Jakarta sebagai kota global memiliki visi pembangunan sebagai pusat perekonomian nasional, serta berfungsi sebagai pusat perdagangan, pusat kegiatan layanan jasa dan layanan keuangan, serta kegiatan bisnis nasional dan global.

Untuk mewujudkan hal tersebut, ada banyak tantangan yang harus dihadapi Jakarta.

Seperti arus urbanisasi, disrupsi teknologi, hingga perubahan iklim.

“Pertama, kepadatan penduduk dan mobilitas penduduk, unskilled labor; permukiman kumuh, kemacetan, polusi udara, perubahan iklim dan urban heat island (UHI), banjir, rob, dan penurunan tanah, persampahan, serta akses air bersih,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *